Bagi pengguna internet yang aktif di era 2010-an, nama Path tentu bukan hal asing. Aplikasi sosial media ini pernah sangat populer, terutama di kalangan anak muda dan pengguna smartphone generasi awal. Banyak orang menggunakan Path untuk berbagi momen pribadi, lokasi, musik yang didengar, hingga aktivitas sehari-hari dengan lingkaran pertemanan terbatas.
Namun kini, Path seolah hilang dari dunia digital. Tidak ada lagi pengguna aktif, tidak ada pembaruan, bahkan aplikasinya sudah tidak tersedia secara resmi. Hal ini membuat banyak orang bertanya: mengapa sosial media Path sudah tidak ada? Apa yang sebenarnya terjadi?
Artikel ini akan membahas secara lengkap sejarah Path, masa kejayaannya, faktor penyebab penurunannya, hingga alasan mengapa platform ini akhirnya ditutup.
Apa Itu Path?
Path adalah aplikasi media sosial yang diluncurkan pada tahun 2010 oleh Dave Morin, mantan eksekutif Facebook, bersama beberapa rekan pengembang teknologi lainnya.
Konsep utama Path berbeda dari sosial media lain pada masa itu. Jika Facebook atau Twitter memungkinkan ribuan teman, Path justru membatasi jumlah pertemanan agar lebih intim dan personal.
Pada awal peluncurannya, pengguna hanya bisa memiliki maksimal 50 teman. Angka ini kemudian ditingkatkan menjadi 150, lalu 500.
Tujuan pembatasan ini adalah menciptakan pengalaman berbagi yang lebih dekat dan privat, seperti berbagi dengan keluarga dan sahabat saja.
Mengapa Path Pernah Sangat Populer?
Path memiliki banyak fitur unik yang membuatnya berbeda dari sosial media lain.
Beberapa alasan popularitas Path:
✔ Desain aplikasi sangat elegan dan minimalis
✔ Fokus pada privasi dan lingkaran kecil
✔ Bisa berbagi lokasi, musik, dan aktivitas
✔ Timeline personal seperti jurnal digital
✔ Reaksi emosional selain “like”
✔ Fitur check-in tempat
✔ Bisa mencatat waktu tidur dan bangun
Path terasa lebih personal, eksklusif, dan intim dibanding sosial media lain yang lebih terbuka.
Di Indonesia, Path bahkan menjadi salah satu aplikasi paling populer sekitar tahun 2013–2015. Banyak anak muda, selebriti, dan komunitas aktif menggunakan platform ini.
Masa Kejayaan Path
Pada puncaknya, Path memiliki jutaan pengguna aktif, terutama di Asia, termasuk Indonesia.
Beberapa hal yang membuat Path terasa spesial pada masa itu:
Privasi lebih terjaga dibanding Facebook.
Interaksi lebih personal.
Tampilan visual lebih modern.
Pengalaman pengguna sangat smooth.
Bahkan bagi sebagian orang, Path terasa lebih “dewasa” dan eksklusif dibanding sosial media lain.
Namun kejayaan ini tidak berlangsung lama.
Mengapa Path Mulai Ditinggalkan?
Ada beberapa faktor besar yang menyebabkan Path kehilangan popularitas.
1. Persaingan Ketat dari Sosial Media Besar
Ketika Path berkembang, platform lain juga berkembang jauh lebih cepat.
Instagram mulai booming.
WhatsApp menjadi komunikasi utama.
Facebook terus memperluas fitur.
Snapchat memperkenalkan konsep story.
Banyak fitur unik Path akhirnya ditiru atau dilampaui oleh platform lain dengan basis pengguna jauh lebih besar.
Akibatnya, pengguna mulai berpindah.
2. Pembatasan Jumlah Teman Justru Menjadi Masalah
Konsep lingkaran kecil awalnya menarik, tetapi dalam jangka panjang menjadi hambatan.
Pengguna ingin:
Menambah teman.
Memperluas jaringan.
Membangun komunitas.
Namun Path membatasi interaksi sosial secara sistem.
Di era sosial media yang semakin terbuka, pembatasan ini dianggap kurang fleksibel.
3. Inovasi yang Terlambat Berkembang
Sosial media harus terus berinovasi.
Platform lain terus menambahkan fitur baru:
Live streaming.
Story.
Reels.
Marketplace.
Filter kamera.
Sementara Path dianggap kurang cepat beradaptasi dengan tren baru.
Pengguna akhirnya beralih ke platform yang lebih dinamis.
4. Masalah Privasi dan Keamanan Data
Pada tahun 2013, Path pernah mendapat sorotan karena masalah privasi data pengguna.
Aplikasi diketahui mengakses kontak pengguna tanpa izin yang jelas.
Hal ini menimbulkan kritik dan merusak kepercayaan pengguna.
Di era digital, kepercayaan adalah faktor utama.
Sekali reputasi terganggu, sulit untuk pulih sepenuhnya.
5. Perubahan Kepemilikan Perusahaan
Pada tahun 2015, Path diakuisisi oleh perusahaan teknologi Korea Selatan bernama Kakao.
Setelah akuisisi, arah pengembangan platform berubah.
Beberapa fitur dikurangi.
Beberapa layanan dihentikan.
Perubahan strategi ini memengaruhi pengalaman pengguna.
6. Model Bisnis yang Kurang Kuat
Platform sosial media membutuhkan sumber pendapatan stabil.
Facebook dan Instagram mengandalkan iklan.
YouTube monetisasi konten.
TikTok digital marketing.
Path kesulitan menemukan model bisnis yang berkelanjutan.
Tanpa pendapatan kuat, operasional sulit dipertahankan.
Kapan Path Resmi Ditutup?
Path secara resmi mengumumkan penghentian layanan pada tahun 2018.
Tanggal penting:
Oktober 2018 → Path mengumumkan penutupan.
November 2018 → Pengguna tidak bisa mendaftar baru.
Oktober 2019 → Layanan benar-benar berhenti total.
Setelah itu, Path tidak lagi beroperasi.
Apa yang Terjadi Setelah Path Ditutup?
Setelah Path berhenti, pengguna berpindah ke platform lain seperti:
Instagram.
WhatsApp.
Twitter (X).
TikTok.
Facebook.
Beberapa fitur yang dulu populer di Path kini tersedia di berbagai aplikasi lain.
Mengapa Banyak Orang Masih Merindukan Path?
Walaupun sudah tidak ada, banyak orang masih mengenang Path dengan nostalgia.
Alasannya:
Lebih personal dan privat.
Tidak terlalu ramai.
Interaksi lebih bermakna.
Tampilan sederhana dan elegan.
Kenangan digital bersama teman dekat.
Path dianggap sebagai sosial media yang lebih “intim” dibanding platform modern.
Pelajaran dari Kehilangan Path
Kisah Path memberikan pelajaran penting dalam dunia teknologi.
Inovasi harus terus berkembang.
Persaingan digital sangat cepat.
Privasi pengguna sangat penting.
Model bisnis harus kuat.
Adaptasi terhadap tren adalah kunci bertahan.
Bahkan platform populer bisa hilang jika tidak mampu beradaptasi.
Apakah Path Akan Kembali?
Hingga saat ini tidak ada tanda Path akan kembali.
Tidak ada pengumuman resmi tentang peluncuran ulang.
Namun konsep sosial media privat seperti Path mulai muncul kembali dalam bentuk baru, seperti komunitas tertutup atau aplikasi berbagi terbatas.
Artinya, ide dasar Path sebenarnya masih relevan.
Kesimpulan
Sosial media Path sudah tidak ada karena kombinasi berbagai faktor, mulai dari persaingan ketat dengan platform besar, kurangnya inovasi, masalah privasi, perubahan kepemilikan, hingga model bisnis yang tidak berkelanjutan. Meskipun pernah sangat populer, terutama di Indonesia, Path akhirnya tidak mampu bertahan dalam ekosistem digital yang terus berubah cepat.
Penutupan resmi Path pada tahun 2018 menandai berakhirnya salah satu era sosial media paling personal yang pernah ada. Namun kenangan dan konsep berbagi intim yang ditawarkan Path masih dikenang banyak orang hingga sekarang.
Kisah Path menjadi bukti bahwa dalam dunia teknologi, popularitas saja tidak cukup. Adaptasi, inovasi, dan kepercayaan pengguna adalah kunci utama agar sebuah platform bisa bertahan dalam jangka panjang.